id.news

Karisma dan Kontroversial: Enzo Bianchi Meninggal Dunia pada Usia 83 Tahun

Enzo Bianchi, pendiri Komunitas Biara Bose, meninggal dunia di Rumah Sakit Molinette, Turin, pada usia 83 tahun akibat gagal ginjal yang menyebabkan koma metabolik.

Bianchi adalah seorang biarawan, tetapi tidak pernah ditahbiskan sebagai imam. Sebagai penulis yang produktif, ia menulis banyak karya tentang Kitab Suci, spiritualitas, dan Kekristenan kontemporer. Ia menyapa khalayak Katolik, Protestan, dan Ortodoks, serta menjadi lawan bicara tetap bagi para intelektual sekuler dan non-penganut agama.

Bose: Dari Rumah Petani Menjadi Pusat Ekumenisme

Bianchi lahir pada 3 Maret 1943 di Castel Boglione, Piedmont. Ibunya meninggal ketika ia berusia delapan tahun, dan ia dibesarkan oleh ayahnya yang ateis dan komunis. Setelah mempelajari akuntansi dan memulai studi ekonomi, ia memilih jalan yang berbeda.

Pada tahun 1965, ia menetap di sebuah rumah pertanian di Bose, dekat Magnano di provinsi Biella, tiba pada tanggal 8 Desember, hari terakhir Konsili Vatikan II.

Tiga tahun kemudian, orang-orang lain bergabung dengannya. Komunitas tersebut terdiri dari pria dan wanita, baik Katolik maupun Protestan. Awalnya dipandang dengan keraguan oleh otoritas Gereja, komunitas ini kemudian mendapat dukungan dari Kardinal Michele Pellegrino.

Bose berkembang menjadi tempat pertemuan para uskup, teolog, dan cendekiawan, dengan fokus khusus pada ekumenisme.

Bianchi bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Roger Schutz dan Patriark Athenagoras, mengunjungi Gunung Athos, dan bekerja sama selama puluhan tahun dengan Dewan Kepausan untuk Mempromosikan Kesatuan Kristiani. Pada tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II memasukkannya ke dalam delegasi yang membawa ikon Bunda Maria dari Kazan kepada Patriark Ortodoks Rusia Alexy II di Moskow.

Konflik dan Kepergian dari Bose

Pada tahun 2016, Bianchi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai prior Bose dan secara resmi mundur pada tahun 2017, namun tetap tinggal di komunitas tersebut.

Menyusul ketegangan internal dan keluhan mengenai cara ia menjalankan kewenangannya, tata kelola komunitas, serta iklim persaudaraan di dalamnya, sebuah kunjungan apostolik diperintahkan pada tahun 2019.

Pada Mei 2020, Paus Fransiskus memerintahkan Bianchi dan beberapa anggota lainnya untuk meninggalkan Bose karena ketegangan serius yang memengaruhi kehidupan komunitas.

Bianchi menganggap tindakan tersebut tidak adil dan menggambarkan kepergiannya sebagai "pengasingan." Para pendukungnya mengatakan bahwa ia belum menerima penjelasan yang memuaskan mengenai keputusan Vatikan tersebut. Bianchi kemudian bertemu dengan Paus Fransiskus lagi.

Setelah beberapa waktu di Turin, Bianchi pindah ke Albiano d'Ivrea, dekat Bose, di mana ia mendirikan Casa della Madia, yang kemudian menjadi Persaudaraan Madia. Beberapa saudara dan saudari bergabung dengannya.

Ia tetap aktif hingga usia delapan puluhan, menerima tamu, menulis, berkhotbah, dan menyelenggarakan pertemuan. Meskipun menjalani dialisis dan kesehatannya semakin menurun, ia terus membuat rencana. Sesaat sebelum kematiannya, ia telah menjadwalkan pertemuan untuk musim gugur dan bermaksud memimpin kursus memasak secara langsung.

Kontroversi seputar Homoseksualitas

Bianchi adalah tokoh karismatik dan kontroversial yang sering terlibat dalam perselisihan di dalam Katolik Italia. Pendapatnya mengenai homoseksualitas termasuk di antara hal-hal yang memicu penolakan.

Pada tahun 2015, ia berpendapat bahwa karena Kristus tidak secara eksplisit membahas homoseksualitas dalam Injil, Gereja seharusnya mengakui masalah tersebut sebagai hal yang belum terselesaikan daripada mengeluarkan kecaman. Di mana Gereja tidak dapat menyatakan dengan pasti, katanya, ia lebih memilih agar Gereja tetap diam.

Bianchi mendukung perkawinan sipil sesama jenis dan mengatakan bahwa pasangan sesama jenis dapat "mencintai (!) dan saling mendukung".

Bianchi dan Misa Latin Tradisional

Meskipun sangat terkait dengan Gereja pasca-konsili, Bianchi juga mempertahankan hubungannya dengan Misa Latin Tradisional.

Setelah Benediktus XVI memperluas penggunaannya pada tahun 2007, Bianchi berpendapat bahwa bentuk-bentuk liturgi yang berbeda dapat hidup berdampingan di dalam Gereja.

Menyusul pembatasan yang diberlakukan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2021, ia terus menganjurkan penghormatan terhadap liturgi yang lebih tua, dengan mengatakan bahwa ritus kuno tersebut tidak boleh “dihina atau diremehkan” dan menyerukan perdamaian liturgi yang lebih besar.

Pada bulan Juli 2026, hanya beberapa minggu sebelum kematiannya, Bianchi menghadiri Misa Latin Tradisional di Gereja Misericordia di Turin.

Terjemahan AI
5